Begini Siasat Para Pahlawan Seattle Sound Wariskan Musik Grunge ke Generasi Muda
ilustrasi: NME/Keith Griner/Getty Images + Kevin Winter/Getty Images + Stephen J. Cohen/Getty Images
Grunge (baca: granj;kadang-kadang disebut sebagai Seattle Sound) adalah genre dan subkultur
ACA Poker - alternative rock yang muncul selama pertengahan 1980-an di negara bagian Washington, Pasifik Barat Laut Amerika, khususnya di Seattle dan kota-kota terdekat. Grunge memadukan elemen punk rock dan heavy metal, tetapi tanpa struktur dan kecepatan punk.
Tapi tanpa struktur dan kecepatan punk. Genre ini menampilkan suara gitar elektrik yang terdistorsi yang digunakan di kedua genre, meskipun beberapa band tampil dengan lebih banyak penekanan pada salah satunya. Seperti genre ini, grunge biasanya menggunakan gitar listrik, gitar bass, drum, dan vokal.
Grunge juga memasukkan pengaruh dari band rock indie seperti Sonic Youth. Lirik biasanya dipenuhi kecemasan dan introspektif, sering membahas tema-tema seperti keterasingan sosial, keraguan diri, pelecehan, pengabaian, pengkhianatan, isolasi sosial dan emosional, trauma psikologis dan keinginan untuk kebebasan.
Seolah mengamini pepatah milik band grunge lokal Cupumanik, 'Grunge Harga Mati', ragam musik rock alternatif satu ini memang tampak nggak mati ditelan zaman.
Bahkan, para pentolan 90s grunge tampak mencoba membudayakan musik grunge ke kalangan yang lebih muda. Di Amerika Serikat sana, para pahlawan Seattle Sound tampak menginisiasi sebuah rock camp atau pelatihan khusus untuk mencari bibit-bibit rocker masa depan.
Adalah Jerry Cantrell sang gitaris Alice In Chains, Kim Thayill eks gitaris Soundgarden, dan Dave Krusen mantan drummer Pearl Jam yang menciptakan rock camp bertajuk 'The Sounds Of Seattle' yang segera dihelat di Los Angeles, California.
Kabarnya, pelatihan tersebut akan mulai terlaksana tahun 2022 pada 17 hingga 20 Februari. Sebagaimana judulnya, salah satu tujuan camp tersebut adalah untuk merayakan skena grunge 90an yang berawal di negara bagian Washington, Amerika Serikat.
Para peserta akan diminta membentuk band mereka sendiri dengan didampingi para mentor mulai dari Jerry Cantrell, personel Jane's Addiction, Nickelback, hingga pentolan band Whitesnake.
Para grup ini bakal menghabiskan tiga hari belajar bareng mentor-mentor gahar tersebut, sebelum akhirnya tampil di sebuah gig di kota Los Angeles.
Menarik nggak tuh? Kira-kira yang beginian perlu diadakan juga nggak ya di Indonesia?






Leave a Comment