ACAPOKER menyediakan games TEXAS HOLDEM POKER

mainkan game poker online dan domino QQ terbaru

Daftar Sekarang Juga!

Usai Menunggu Lama, Akhirnya Presiden Ukraina Bertemu dengan Joe Biden di Gedung Putih

 

ACA Poker - Presiden AS Joe Biden berbicara kepada pers dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebelum pertemuan di Kantor Oval Gedung Putih 1 September 2021, di Washington. (Foto: AFP)


Setelah lama menunggu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, akhirnya telah bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, di Gedung Putih di Washington, D.C, Amerika Serikat, pada hari Rabu, 1 September 2021, waktu setempat. Hal ini adalah pertemuan yang dinanti-nantikan oleh Zelensky sendiri.


Pertemuan tersebut menawarkan Biden kesempatan untuk menekankan prioritas kebijakan luar negeri

https://twitter.com/KyivPost/status/1433185112452173830?s=20


Dilansir dari Washingtonpost.com, Biden akhirnya bertemu dengan Zelensky pada hari Rabu yang menegaskan kembali dukungan pemerintahannya untuk kedaulatan dan keamanan Ukraina dan memberikan Zelensky pertemuan secara langsung di Gedung Putih yang telah lama dinantikan oleh Zelensky sejak menjabat tahun 2019 lalu.


Pertemuan itu juga menawarkan Biden sebuah kesempatan untuk menekankan prioritas kebijakan luar negeri yang sering dia sebut sebagai alasan untuk menarik pasukan dari Timur Tengah.


Dalam sambutan singkatnya, Biden menyatakan keinginannya untuk Eropa yang secara keseluruhan bisa bebas dan damai serta menegaskan kembali penentangannya terhadap agresi Rusia.


Ia juga mengenang kunjungan sebelumnya saat masih menjabat sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat saat itu ke Ukraina dan mengatakan dia berharap bisa mengunjungi negara itu lagi kedepannya.


Begitu juga dengan Zelensky yang diharapkan menggunakan waktu pertemuan dengan Biden untuk mencari jaminan bahwa Amerika Serikat tetap berkomitmen dalam membantu Ukraina menangkal agresi dari Rusia, menekan Biden tentang keamanan energi terkait pipa gas Nord Stream 2 dari Rusia ke Jerman, serta membahas aspirasi Ukraina untuk bergabung sebagai anggota NATO.


Ukraina memandang Amerika Serikat sebagai sekutu terpentingnya dalam upayanya untuk merebut kembali wilayah Krimea dan dalam pertempurannya melawan separatis yang didukung oleh Kremlin di Ukraina Timur, yang telah menewaskan lebih dari 13 ribu orang hingga saat ini.


Secara khusus, para pejabat Ukraina menyebutkan bahwa tanpa adanya dukungan kuat dari Amerika Serikat, mereka khawatir Rusia justru lebih berani dalam meningkatkan serangan pertempuran atau serangan lebih lanjut ke wilayah Ukraina.


Sebelum bertemu, kedua pemimpin ini sudah berbicara lewat telepon sebanyak dua kali

https://twitter.com/Newsy/status/1433220627536625664?s=20


Biden mencatat peringatan 30 tahun kemerdekaan Ukraina dari Uni Soviet yang menerangkan bahwa Amerika Serikat tetap berkomitmen kuat pada kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina dalam menghadapi agresi Rusia.


Dia juga menegaskan kembali bahwa Amerika Serikat berencana untuk mengirim bantuan kepada Ukraina sebesar 60 juta dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp 856 miliar, diatas bantuan sebesar 400 juta dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp5,7 triliun yang dikirimkan tahun 2020 lalu.


Presiden Ukraina mengungkapkan rasa terima kasihnya bahwa Biden setuju untuk bertemu dengannya selama masa-masa sulit bagi dunia dan Amerika Serikat. Faktanya, pertemuan itu semula dijadwalkan pada hari Senin, 30 Agustus 2021, tetapi kemudian diundur sebanyak dua kali untuk memungkinkan Biden fokus pada jam-jam terakhir penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan.


Meskipun ini merupakan pertemuan langsung pertama mereka, keduanya sebelumnya pernah berbicara sebanyak dua kali melalui telepon pada tahun 2021 ini, sekali pada bulan April 2021 lalu dan sekali lagi di bulan Juni 2021 lalu, tak lama sebelum pertemuan puncak antara Biden dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.


Akan tetapi, kunjungan Zelensky ke Gedung Putih lebih dari sekadar panggilan sosial. Seperti kebanyakan pemimpin asing lainnya, Presiden Ukraina memiliki kekhawatiran mengenai apa arti keluarnya Afghanistan bagi komitmen internasional Amerika Serikat serta apakah Amerika Serikat dapat dipercaya untuk membela sekutunya.


Biden sendiri menyebutkan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki kepentingan nasional yang vital di Afghanistan. Hal ini yang membuat Zelensky mungkin bertanya-tanya apakah Presiden Biden merasakan hal yang sama mengenai Ukraina.


Tentu ini merupakan pertanyaan yang dengan cepat disorot oleh Rusia sebagai bagian dari kampanyenya untuk menekan bekas republiknya itu.


Analis politik berpendapat kegugupan Zelensky dapat dimengerti


Direktur Pusat Eurasia Dewan Atlantik sekaligus mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Ukraina, John Herbst, mengatakan bagi Biden, ini penting karena dia baru saja mengalami 2 minggu yang sangat buruk, berurusan dengan bencana penarikan pasukan Amerika Serikat di Afghanistan, serta bagi beberapa orang yang melemahkan reputasi Biden sebagai pemimpin kebijakan luar negeri yang kuat, jadi ini memberinya kesempatan untuk menunjukkan dia di puncak permainannya.


Ia juga berkomentar terkait dengan sikap kegugupan Zelensky yang dinilai dapat dimengerti saat bertemu dengan Biden. Ia menambahkan Zelensky menghadapi salah satu kekuatan militer besar dunia dalam perang agresi, tetapi tidak ada keraguan pada orang-orang yang melihat ini dengan serius bahwa Afghanistan dengan cara apa pun akan mengubah komitmen Amerika Serikat ke Ukraina, kepada sekuru NATO dan mitra Amerika Serikat di seluruh dunia.


Herbst menambahkan Zelensky perlu mendengar kata-kata yang meyakinkan dari Presiden dan yang lainnya serta dia akan mendapatkannya.


Biden sendiri tampaknya tidak mungkin sepenuhnya menyerah pada banyak permintaan Zelensky. Dia telah menjelaskan bahwa dia memandang pipa Nord Stream 2 sebagai fait accompli dan Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psaki, mengatakan bahwa Ukraina masih perlu memenuhi beberapa tes sebelum menjadi anggota NATO serta bahwa keputusannya tidak salah.


Dalam beberapa bulan terakhir ini, Zelensky mencurahkan upaya diplomatik khusus untuk dua bidang yang ia anggap penting bagi keamanan negaranya, yakni memperoleh peta jalan untuk aksesi Ukraina ke NATO dan mencegah pipa gas Nord Stream 2 dari Rusia ke Jerman untuk memulai operasi.


Sejauh ini, di kedua bidang itu tidak membuahkan hasil. Biden sebelumnya mengatakan "tidak sekolah" tentang masalah NATO, karena Ukraina masih diganngu oleh masalah korupsi dan faktor lainnya, sebuah posisi yang ditegaskan oleh Psaki.


Konstruksi di Nord Stream 2 hampir selesai dan tampaknya menutup kemungkinan untuk menghentikan proyek. Namun para pejabat Ukraina mengatakan mereka akan terus mendorong ini.

No comments

Powered by Blogger.