Nakes dan TNI Bantah Klaim TPNBP-OPM sebut Dokter Restu Pegang Senjata
ACA Poker - Sejumlah nakes berhasil dievakuasi dari Distrik Kiwirok dan tiba di Jayapura pada 17 September 2021 (ANTARA FOTO)
Kapendam XVIII Kasuari, Kolonel Hendra Pesireron, membantah klaim Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat dan Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) bahwa seorang dokter mengeluarkan pistol sebelum TPNPB-OPM menyerang petugas kesehatan di Kiwirok, Papua pada 13 September 2021.
"Selalu beralibi mereka, banyak melakukan pembohongan publik," kata Hendra, Selasa (21/9/2021).
Dua petugas kesehatan menyangkal bahwa dr. Restu Pamanggi memegang senjata api
Selain Kapendam, dua dari empat tenaga kesehatan yang menjadi korban penganiayaan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, membantah TPNPB-OPM bahwa Dr. Restu Pamanggi memegang senjata api.
"Tidak benar berita yang beredar karena kami semua menjadi korban aksi penganiayaan yang dilakukan KKB, Senin lalu (13/9)," kata Kristina Sampe Tonapa dan Katrianti Tandila seperti dikutip ANTARA.
Kedua tenaga kesehatan yang masih dirawat di RS Marthen Indey Jayapura itu terbata-bata menceritakan kembali kejadian yang dialaminya saat membenarkan bahwa dr Restu tidak memegang senjata.
"Apa yang beredar di luar sangat tidak benar dan itu perbuatan yang keji karena keberadaan kami semua untuk menolong masyarakat agar mendapat pelayanan kesehatan," ujar keduanya yang dirawat di satu ruangan.
Nakes dikejar dengan panah dan senjata tajam
Diakuinya, saat peristiwa pembakaran dan perusakan terjadi, keempatnya melarikan diri dengan melompat ke jurang dekat Puskesmas.
Massa yang merupakan komunitas Kiwirok mengikutinya dengan panah dan senjata tajam hingga melukai para tenaga kesehatan.
"Kami berempat yakni saya, Katrianti Tandila, Marselinus Ola Atanila dan almarhum Gabriela Meilan lompat ke jurang namun mereka tetap mengejar dan menganiaya," katanya.
Petugas kesehatan mengungkapkan trauma kembali bekerja
Kristina mengaku terjatuh paling dalam, yakni sekitar 500 meter dan bertahan dengan meminum air hujan selama tiga hari sebelum dievakuasi oleh anggota TNI-Polri.
Akibat kejadian itu, Kristiana Sampe yang mengalami luka tusukan benda tumpul di bagian paha mengaku tak ingin kembali bekerja di pedalaman.
Ia mengaku sudah lima tahun menjadi tenaga kesehatan sementara yang direkrut Dinas Kesehatan Pegunungan Bintang dan baru kemarin mengalami kejadian yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya.
"Saya tidak ingin kembali bertugas ke pedalaman, karena trauma," kata kedua tenaga kesehatan itu bergantian.





Leave a Comment